Ketika Online Bertemu Offline
Gaya Bertemu Substansi dan
Mesin-ke-Mesin Bertemu Manusia-ke-Manusia
Gaya Bertemu Substansi dan
Mesin-ke-Mesin Bertemu Manusia-ke-Manusia
Menurut the Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), inovasi digital bisa mendekatkan banyak negara ke kemakmuran berkesinambungan. McKinsey mencatat inovasi teratas yang memberi dampak ekonomi paling signifikan, termasuk internet ponsel, automasi pekerjaan pengetahuan, internet berbagai hak, teknologi cloud, robotis canggih dan 3-D printing. Teknologi digital ini sudah ada selama beberapa tahun, tetapi dampaknya mencapai titik tertinggi baru-baru ini saja, yang dicetuskan oleh konvergensi beberapa teknologi.
Teknologi ini membantu mengembangkan beberaoa sektor dalam ekonomi, seperti ritel (e-commerce), transportasi (kendaraan otomatis), pendidikan (kursus online terbuka yang masif), kesehatan (catatan elektronik dan obat personal), serta interaksi sosial (jaringan sosial). Akan tetapi, banyak teknologi sam ayang mendorong ekonomi digital juga mendisrupsi industri kunci dan mengacaukan industri besar yang sudah ada. Pengecer besar seperti Borders dan Blockbuster, misalnya, mengalami disrupsi yang disebabkan oleh pendatang baru yang diberdayakan secara digital ini - Amazon dan Netflix - kini menjadi pemain lama utama dalam industri mereka. Menariknya bahkan disruptor masa lalu pun bisa mengalami nasib serupa. iTunes dari Apple, yang duluya sukses mendisrupsi ritel musik tradisional dengan ritel musik online, didisrupsi oleh Spotify dan model bisnis music-streaming-nya. Pemasukan Apple dari penjualan musik menurun sejak mencapai puncak pada awal tahun 2000-an. Apple meluncurkan layanan music-streaming sendiri, Apple Music, pada pertengahan 2015 untuk menyaingi Spotify.
Beradaptasi pada teknologi disruptif yang berkembang, sebagaimana besar pelanggan merasa bersemangat dan gelisah pada waktu yang sama. Automasi pekerjaan pengetahuan, contohnya, tidak saja meningkatkan produktivitas, tetapi juga menimbulkan ketakutan akan hilangnya pekerjaan. Percetakan 3-D membuka kemungkinan dalam hal inovasi kecepatan. Namun, pada sisi negatif, percetakan 3-D bisa juga disalahgunakan untuk memproduksi senjata api, misalnya.
Dilema yang paling signifikan mungkin disebabkan oleh internet ponsel. Internet ponsel melancarkan konektivitas rekan-ke-rekan dan memberdayakan pelanggan menjadi jauh lebih pintar dan lebih terinformasi daripada di masa lalu. Namun, sebuah studi oleh Przybylski dan Weinstein dari University of Essex membuktikan bahwa ponsel juga dapat merusak relasi. Penelitian ini mengungkapkan bahwa ponsel dapat mengalihkan perhatian orang dari lingkungan tempat mereka berada. Penelitian ini juga menemukan bahwa perasaan mampu berhubungan dengan jaringan yang lebih luas sering menghambat kemampuan orang untuk berempati pada orang lain yang berada di dekatnya. Karenanya, saat dorongan menuju ekonomi digital semakin kuat, pelanggan mendambakan penerapan teknologi yang sempurna yang memingkinkan mereka mengaktualisasikan diri dan pada waktu yang sama menjadi lebih berempati.
Dalam periode transisi dan adaptasi menuju ekonomi digital, dibutuhkan pendekatan pemasaran yang baru untuk memandu pemasar dalam mengantisipasi dan mengungkit teknologi disruptif. Selama enam tahun terakhir, pemasar menanyakan lanjutan dari Marketing 3.0: From Products to Customers to Human Spirit (Wiley, 2010). Buku kami tersebut diterima oleh semua orang dan diterjemahkan ke 24 bahasa non-Inggris. Dalam buku tersebut, kami berbicara tentang pergeseran besar dari pemasaran yang berorientasi pada produk (1.0) ke pemasaran yang berorientasi pada pelanggan (2.0) ke pemasaran yang berorientasi pada manusia (3.0).
Kami sekarang ingin memperkenalkan Marketing 4.0. Marketing 4.0 adalah pendekatan pemasaran yang menggabungkan interaksi online dan offline antara perusahaan dan pelanggan. Dalam ekonomi digital, interaksi digital saja tidaklah cukup. Bahkan, di dunia yang semakin online, sentuhan offline mewakili diferensiasi yang kuat. Marketing 4.0 juga memadukan gaya dengan substansi. Meskipun sangat penting bagi merk untuk lebih fleksibel dan adaptif karena adanya tren teknologi yang berubah cepat, karakter autentiknya menjadi semakin penting. Di dunia yang semakin transparan, autentitas adalah aset yang paling berharga. Akhirnya, Marketing 4.0 mengungkit konektivitas mesin-ke-mesin dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan produktivitas pemasaran sambil mengungkit konektivitas manusia-ke-manusia untuk memperkuat keterlibatan pelanggan.
Sumber: Buku Marketing 4.0 Bergerak Dari Tradisional ke Digital, hal 41-43
Comments
Post a Comment